Pada dasarnya, ciri lingkungan kerja toxic dapat dirasakan apabila Anda merasakan sendiri bahwa ada perilaku negatif di lingkungan kerja yang membuat produktivitas menurun. Bentuknya bermacam-macam seperti banyaknya manipulasi atau bahkan perundungan yang menyebabkan perselisihan sehingga muncul tingkat stres tinggi.

Pahami Ciri Lingkungan Kerja Toxic

Lingkungan kerja toxic membuat Anda merasa tidak nyaman bahkan tertolak untuk melakukan apapun, terutama saat akan berkreasi. Mungkin sulit membedakan apakah Anda memang berada di lingkungan kerja toxic, atau Anda memang sudah jenuh bekerja di satu tempat.  Namun, ada beberapa ciri lingkungan kerja toxic yang dapat diidentifikasi dengan mudah.

Kenali ciri-ciri adanya indikasi lingkungan kerja yang toxic yaitu:

1. Tidak Ada Batasan Waktu Dalam Bekerja

Intinya, saat Anda mengalami pekerjaan yang jadwalnya tidak dapat ditebak, berarti kantor ada memang memiliki toxic environment.  Indikasinya adalah, Anda memprioritaskan pekerjaan di atas apapun. Hal ini terjadi secara otomatis, dimana manajemen level teratas sudah melakukan pekerjaan tanpa batas waktu dan hal ini berimbas pada karyawan di bawahnya.

2. Krisis Kepercayaan

Ciri lingkungan kerja toxic yang lainnya adalah kurangnya kepercayaan dari tingkat manajemen ke level di bawahnya. Bahkan, hal ini  terlihat sangat jelas. Tandanya adalah dimana manajer di tingkat teratas dapat dengan mudah memantau aktivitas semua karyawan.  Atau, manajer selalu mengecek apa yang dilakukan karyawan secara kontinyu sepanjang hari.

Saat ini, memang CCTV diperlukan di kantor. Namun, jika atasan sering menegur bawahan hanya karena hal-hal kecil yang dilihat melalui CCTV, maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja tersebut memiliki krisis kepercayaan.  Intinya, atasan yang memberlakukan aturan terlalu ketat dapat mengakibatkan kinerja buruk dalam sebuah tim.

3. Minim Toleransi Bagi Kesalahan Karyawan Meski Sangat Kecil

Saat seorang karyawan melakukan kesalahan kecil lalu mendapatkan sanksi yang sangat berat, atau bahkan tidak masuk akal, tidak dapat dipungkiri bahwa kantor tersebut memiliki ciri lingkungan kerja toxic.  Saat karyawan merasa bahwa mereka benar-benar tidak boleh membuat kesalahan sekecil apapun, maka mereka akan melakukan apapun untuk menghindari kesalahan.  Kesan awal mungkin bagus, tetapi nantinya akan muncul persaingan tidak sehat antar karyawan.

Contohnya adalah mereka tidak berbagi informasi yang terkait dengan pekerjaan dengan rekan satu tim. Atau, mereka tega menyingkirkan rekan kerja supaya mereka terhindar dari hukuman.  Kecenderungan ini sangat berbahaya jika dibiarkan terus menerus.

4. Karyawan Saling Menghina

Saling menghina  antar karyawan juga menjadi salah satu ciri lingkungan kerja toxic.  Hinaan adalah tindakan yang paling dapat diindikasikan sebagai adanya hubungan yang sangat tidak baik, baik antar manajemen dan karyawan ataupun sesama karyawan.  Contoh yang paling banyak terjadi adalah saat seorang atasan merendahkan ide salah satu karyawan namun menerima ide karyawan lain yang hampir sama dengan ide karyawan yang ditolak tadi.

Hinaan seperti ini tentunya berimbas besar kepada karyawan yang bersangkutan. Apabila Anda berada pada kondisi tersebut, tentu Anda harus waspada. Bukan berarti Anda harus langsung mengundurkan diri. Anda dapat mencoba untuk terus berinovasi meski Anda berhak untuk resign jika hal ini terus terjadi.

5. Tidak Ada Kesempatan Untuk Perkembangan Karir

Kesempatan mengembangkan karir seharusnya sangat terbuka di lingkungan kerja yang sehat. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan diri. Caranya adalah dengan memberikan pelatihan secara rutin kepada setiap department. Jika tidak, maka kemampuan karyawan akan stagnan dan berimbas pada non produktivitas.

Memang, pelatihan rutin sering dilakukan oleh perusahaan berskala besar. Namun, hal ini tentunya dapat juga diupayakan oleh perusahaan yang masih baru berdiri. Banyak kesempatan mengikuti seminar atau pelatihan gratis yang harus dimanfaatkan para pemilik perusahaan.  Pelatihan sangat penting supaya karyawan merasa terikat dengan perusahaan.

Hal ini memang terkesan sederhana. Bagi karyawan yang memang sekedar bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, mungkin mereka tidak merasakan dampaknya. Tetapi, jika Anda adalah seseorang yang ingin mengembangkan karir dan berambisi mencapai karir terbaik, pastinya Anda cenderung memilih perusahaan lain yang dapat mengakomodasi keinginan Anda.

6. Saling Memanas-Manasi Satu Sama Lain

Seringkali Anda berada pada kondisi kesal pada atasan. Dan di saat inilah rekan Anda mengeluarkan komentar yang membuat hati Anda semakin panas. Hal ini tentunya dapat membuat Anda tersulut dan tidak dapat berpikir jernih.

Disinilah awal dari kecurigaan karyawan pada atasan, yang mungkin sebenarnya tidak perlu dilakukan. Anda akan terus merasa bahwa atasan menyudutkan Anda, meski sebenarnya tidak demikian.  Perilaku saling memanasi antar karyawan ini dapat membuat Anda dan karyawan lain menjadi tidak berpikir logis.

Ujung-ujungnya adalah Anda merasa tidak betah karena Anda merasa bahwa atasan selalu menekan Anda. Padahal, memang instruksi atasan tersebut sebenarnya dapat meningkatkan pencapaian Anda.  Tentu, jika Anda merasa tertekan dan mengundurkan diri, Anda sendiri yang rugi karena belum tentu Anda mendapatkan pekerjaan dan gaji setara dengan yang Anda dapatkan saat ini.

7. Hubungan Tidak Sehat Antar Karyawan

Ciri lingkungan kerja toxic yang berikutnya adalah saat para karyawan tidak lagi merasa seperti ‘senasib sepenanggungan’. Padahal, kerja tim adalah kunci sukses dari bisnis. Kesehatan emosional di kantor atau tempat kerja apapun terlihat dari interaksi antar karyawan.

Contohnya adalah tidak adanya komunikasi ringan antar karyawan saat beristirahat. Anda dapat menyerap energi di kantor melalui suasana serta bahasa tubuh sesame karyawan. Saling diam satu sama lain atau ada karyawan yang membentuk kelompok tertentu adalah indikasi adanya hubungan tidak sehat di dalam tempat kerja.

8. Stress Tingkat Tinggi dan Kelelahan Ekstrim

Tanpa disadari, Anda yang mengalami kelelahan ekstrim sepulang kerja dengan stres tingkat tinggi sebenarnya sedang bekerja di lingkungan toxic. Anda mungkin merasa bahwa tubuh dan otak selalu siaga tingkat tinggi.  Hal ini dikarenakan otak mengidentifikasi adanya tekanan atau bahkan ancaman secara terus-menerus.

Saat otak berada pada kondisi ini dalam jangka waktu lama, maka kesehatan fisik jangka panjang akan terpengaruh. Anda akan mengalami beberapa gejala stress atau bahkan depresi dalam wujud gangguan kesehatan, sulit tidur , kelelahan, dan sering sakit. Tentunya hal ini akan sangat merugikan Anda dan keluarga.

9. ‘Sirkulasi’  Karyawan

Seringnya karyawan yang keluar masuk di tempat kerja adalah salah satu ciri lingkungan kerja toxic. Hal ini diawali saat karyawan mulai menutup diri yang berujung pada pengunduran diri. Saat sebuah perusahaan seringkali berganti karyawan dalam waktu kurang dari setahun, maka hal ini mengindikasikan bahwa adanya lingkungan kerja toxic.  

Jika memang Anda sedang merasa bahwa kantor Anda memiliki ciri lingkungan kerja toxic, Anda dapat langsung mengambil tindakan. Anda dapat mencari peluang kerja baru, namun tetap dengan kepala dingin dan tidak sedang emosi.  Jika Anda keluar dari kantor dengan kemarahan dan emosi buruk, bisa jadi Anda akan memilih lingkungan kerja yang juga sama-sama toxic.

Comments are closed.